Di lingkungan pendidikan di Kabupaten Bantul, H. Yasmuri, S.Pd.,M.Pd.I sudah tidak diragukan lagi dedikasi dan popularitasnya. Banyak sekolah dengan sentuhan tangan dinginnya mampu menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas. Mulai mengajar sejak tahun 1979, pria yang akrab dipanggil Pak Yas ini memasuki masa pensiun pada tahun 2017. Selain itu aktivitas dan pengalaman organisasinya di Nahdlatul Ulama (NU) membuktikan dedikasi tinggi kepada perjuangan umat. Akan tetapi, Ketua Pengurus Cabang NU Kabupaten Bantul selama 10 tahun ini memiliki tekad kuat untuk melanjutkan perjuangan. Pak Yas mewakafkan jiwa dan raganya dengan ikut serta menjadi Calon Legislatif Kabupaten Bantul Dapil Dlingo – Pleret – Imogiri yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Sebelum reformasi, urusan keterwakilan kita di legislatif diserahkan kepada partai. Sehingga masyarakat tidak bisa menentukan secara langsung wakil yang akan duduk di parlemen. Saat ini, urusan keterwakilan itu berada sepenuhnya di tangan rakyat, sehingga masyarakat bisa memilih sendiri figur caleg yang diberikan amanat mengakoomidir aspirasi akar rumput. Sehingga masyarakat harus jeli dalam memilih wakilnya di DPR.

Agar tidak salah dalam menentukan pilihan, masyarakat harus mengenal dan mencermati bagaimana figur caleg. Mulai dari biografi, prestasi, hingga catatan sejarah hidupnya. Sehingga memilih wakil rakyat bukan seperti membeli kucing dalam karung. Pertaruhan besar terkait pemerataan pembangunan dan penjaringan aspirasi berada di tangan masyarakat pada saat pemilu.

Di Indonesia fungsi legislatif meliputi tiga hal pokok, yakni:

  1. Fungsi Legislasi

Dewan Perwakilan Rakyat memiliki kewenangan untuk mengesahkan peraturan dan undang-undang yang dibuat bersama dengan kepala daerah. Risiko terbesarnya adalah munculnya undang-undang dan peraturan daerah yang tidak berpihak kepada rakyat, apabila memiliki wakil rakyat yang tidak mempedulikan aspirasi masyarakat.

  1. Fungsi Anggaran

Kepala daerah (bupati) akan mengajukan rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) kepada DPR untuk disahkan. Pada titik inilah pemerataan pembangunan dan keberpihakan anggaran daerah dipertaruhkan. Kontrol anggaran yang dilakukan oleh DPR sudah semestinya menjadi harapan bagi masyarakat untuk mendapatkan pembangunan yang merata dan optimal.

  1. Fungsi Pengawasan

Tidak kalah penting, DPR memiliki kewenangan untuk mengawasi pelaksanaan undang-undang dan APBD. Itulah sebabnya mengapa peran wakil rakyat ini sangat dibutuhkan, karena pelaksanaan pembangunan dengan anggaran daerah yang sangat besar berpotensi timbul penyelewengan dan kecurangan. Tanpa pengawasan, tentu masyarakat akan menjadi korban praktik curang pembangunan.

Untuk warga Dlingo-Pleret-Imogiri yang menginginkan terwujudnya percepatan pembangunan yang berkeadilan, Pak Yas hadir membawa harapan baru. Keterwakilan di DPRD yang demokratis dan partisipatif dapat diwujudkan melalui tangan Pak Guru yang satu ini.

Prinsip hidupnya yang selalu ingin mengabdikan jiwa dan raga untuk masyarakat, membuat Pak Yas selalu dekat dengan warga dan senantiasa berusaha memberikan yang terbaik. Untuk mewujudkan itu semua, Pak Guru memohon restu dan dukungan dari semua pihak, terutama masyarakat Dlingo-Pleret-Imogiri.

Di sebuah dusun kecil bernama Kediwung yang berada dalam wilayah administrasi Desa Mangunan Kecamatan Dlingo, Pak Yas lahir pada 15 Juli 1957. Putra sulung dari enam bersaudara ini tumbuh besar dengan kedisiplinan yang diterapkan sang ayah, alm Imam Dasuki. Tangan lembut penuh keteladanan dari alm Sandiyem membuat Pak Yas dikenal sangat dekat dengan sang ibu. Sehingga ketegasan dan semangat berjuang yang selalu mendasarai langkahnya, selalu berbalut kelembutan dan keramahan kepada setiap orang.

Pak Yas kecil, menempuh pendidikan dasar di dua sekolah sekaligus, SD Negeri Kediwung dan MI Kediwung hingga lulus pada tahun 1971. Kemudian melanjutkan ke MTs Negeri Giriloyo dan lulus tahun 1974. Pada saat sekolah di MA Negeri Sabdodadi H. Yasmuri juga menimba ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Jejeran. Disela-sela padatnya jam belajar di sekolah dan pesantren, Pak Yas juga mengajar di MI Sorogenen dan juga aktif di organisasi sosial kepemudaan. Pendidikan Strata 1 H. Yasmuri di tempuhnya di STKIP Catur Sakti Bantul dan D3 di UNY, sedangkan gelar Magister Pendidikan Islam di raihnya pada tahun 2004.

Pak Yas yang semasa muda dikenal dengan motor vespanya, menikah dengan Siti Zariyah, santriwati asal Kebosungu, Dlingo. Bersama wanita yang sampai saat ini masih mengabdikan diri sebagai guru agama di SD 1 Dlingo, dikaruniai 4 (empat) orang anak. Keluarga yang pernah tinggal di kompleks SD Dlingo ini kahirnya menetap di Dusun Pokoh 2, Dlingo hingga sekarang.

 

FOKUS MEMBANGUN PENDIDIKAN

Kiprahnya dalam dunia pendidikan dimulai dengan ikut mendirikan Sekolah Taman Dewasa Mangunan pada tahun 1979. Karena aktivitas sosialnya ini, Pak Yas di undang oleh Presiden Soeharto ke Istana Negara bersama dengan Pengurus Yayasan Taman Siswa Yogyakarta. Tidak berhenti sampai disitu, Pak Yas terus membangun dan mengembangkan pendidikan di Bantul. diantaranya adalah menjadi panitia pendiri SMK Pembangunan Dlingo tahun 1986, Ketua Panitia Pendiri dan Kepala Sekolah MTs Ma’arif Dlingo tahun 1987, Panitia Pendiri MI Al-Huda Kebosungu.

Pengalaman mengajar di berbagai sekolah, termasuk SMP N 1 Dlingo pada tahun 1984-2004, Pak Yas kemudian diangkat menjadi kepala SMP N 2 Pleret tahun 2004 – 2008 dan SMP N 1 Pleret 2008 – 2014. Prestasi dan kemampuan pengelolaan yang mumpuni, membawanya untuk di beri kepercayaan memimpin SMPN 1 Bantul pada tahun 2014 – 2017. Meski pensiun pada Agustus 2017 yang lalu, guru yang pernah menjadi anggota Dewan Pendidikan Bnatul ini, masih aktif dalam dunia pendidikan dengan menjabat sebagai Ketua Komite Sekolah SMKN 1 Dlingo dan Anggota Komite Sekolah SMAN Dlingo serta sebagai Komisi Pendidikan MUI Bantul.

 

KADER NU TERBAIK, MERANGKUL SEMUA AGAMA DAN GOLONGAN

Pak Yas memilih Nahdhatul Ulama (NU) sebagai organisasi yang dijadikannya sebagai ruang belajar sekaligus berjuang. Bersama Nahdhatul Ulama ayah dari empat orang anak ini, ikut berkiprah dan mendedikasikan hidupnya dalam kehidupan sosial keagamaan. Diawali dengan Ketua LP. Ma’arif MWC NU Dlingo tahun 1985 – 1989, kemudian diangkat menjadi Sekertaris MWC NU Dlingo 1989 – 1994 dan terpilih menjadi Ketua MWC NU Dlingo masa jabatan 1994 – 1999.

Keberhasilannya memimpin MWC NU Dlingo, Pak Yas kemudian mulai berkiprah di lingkungan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bantul. Dimulai dari jabatannya selaku ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Cabang Bantul tahun 2004-2009, beberapa posisi strategis kemudian dipercayakan hingga akhirnya Pak Yas memegang posisi sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Bantul selama 10 tahun (2009-2014). Pak Yas terkenal ulung dalam organisasi kemasyarakatan, wajar manakala pria yang menjabat sebagai Wakil Ketua MUI Bantul ini diamanahkan untuk memimpin Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bantul sejak tahun 2012 hingga sekarang.

Khoirunnas anfa’uhum linnasi” sebaik-baik manusia adalah menjadi bermanfaat bagi orang lain. Itulah prinsip hidup yang dianut dan dipegang oleh Pak Yas. Dalam setiap gerak langkah dan perbuatannya senantiasa didasari nilai-nilai agama dan diorientasikan kepada kebermanfaatan kepada orang lain. Sehingga pekerjaan sosial yang dilakukan adalah manifestasi pengabdiannya kepada Allah SWT.  Maka keputusan menjadi Calon Legislatif DPRD Bantul adalah bentuk ikhtiar H.Yasmuri untuk mengimplementasikan prinsip hidup yang dipegangnya.

Perjalanan hidup, karier dan prestasi yang telah diraih tidak  lantas menghentikan langkahnya untuk terus mengabdi dan menebar manfaat kepada orang lain. Menjadi calon legislatif DPRD Bantul adalah pilihan strategis untuk terus mengabdikan dan mencurahkan segala kemampuan yang dimilikinya dalam rangka mewujudkan pembangunan yang berkeadilan.

Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua PAC PKB Dlingo tahun 1999, memiliki alasan kuat mengapa memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai kendaraan politiknya. Tidak hanya dikarenakan secara historis dan emosional Pak Yas memiliki ikatan yang kuat dengan PKB. Jauh lebih dari itu, Pak Yas yakin bahwa Partai Kebangkitan Bangsa adalah partai yang memiliki komitmen “Keummatan dan Kebangsaan” dalam setiap gerakan dan kebijakan politiknya.

Komitmen keummatan dan kebangsaan bagi PKB adalah wujud konkret dari doktrin Islam Rahmatan Lil ‘Alamien. Nilai dan ajaran Islam yang tidak menjadikan perbedaan sebagai tembok pembatas bagi kebaikan dan kebenaran, bahwa semua makhluk memiliki hak yang sama untuk dihormati dan dihargai.

Pak Yas juga yakin bahwa Partai Kebangkitan Bangsa adalah partai yang menempatkan kebutuhan dan kepentingan masyarakat adalah prioritas utama dalam setiap program dan kebijakan partai. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah muara dari setiap perjuangan yang dilakukan. Tentu hal ini sangat sesuai dengan prinsip, komitmen dan spirit yang dimilikinya untuk membangun Dlingo. Sebagai Caleg PKB Dapil Dlingo-Pleret-Imogiri pihaknya memang memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan percepatan pembangunan Dlingo yang berkeadilan.

Selain itu Pak Yas ingin membangun tradisi politik yang lebih bermartabat. Politik yang tidak didasari oleh praktek transaksional namun politik yang mengedepankan komitmen bersama untuk membangun Dlingo. Praktek money politic yang selama ini banyak digunakan oleh para politisi dalam menggalang dukungan terbukti telah merusak sistem dan tatanan politik yang ada. Bahwa hubungan antara Caleg dan calon konstituen hanyalah hubungan transaksional yang hanya berdasarkan amplop dan berakhir di dalam bilik suara. Namun setelah itu, rakyat kehilangan keterwakilannya di parlemen yang seharusnya memperjuangkan aspirasi dan kepentingannya.

 

PILIHAN TERBAIK WARGA DLINGO YANG RINDU KETERWAKILAN

Pak Yas hidup dan berjuang di Dlingo. Pengetahuan dan pemahamannya tentang Dlingo tidak lagi diragukan. Pengabdian dan perjuangannya untuk masyarakat Dlingo pun dapat dibuktikan, terlebih keberpihakannya kepada pembangunan Dlingo adalah komitmen yang senantiasa dipegang teguh. Namun Pak Yas belum merasa cukup atas apa yang telah dilakukannya untuk Dlingo, keinginannya untuk lebih bermanfaat bagi pembangunan Dlingo menjadi alasan utama untuk ikut dalam kontestasi pemilihan legislatif 2019.

Dlingo dalam pandangan Pak Yas, merupakan daerah yang memiliki potensi yang luar biasa. Namun karena kebijakan dan keberpihakan pembangunan pemerintah yang belum optimal untuk Dlingo mengakibatkan pembangunan berjalan lambat dan banyak potensi yang ikut terkubur di dalamnya. Pak Yas menyadari hingga saat ini, Dlingo tidak memiliki representasi/wakil di DPRD Bantul. Hal inilah yang menyebabkan Dlingo tidak memiliki posisi strategis dalam program pembangunan pemerintah kabupaten Bantul.

Spirit kebangkitan inilah yang sedang  ditebar dan ditularkan kepada semua lapisan masyarakat Dlingo. Karena tanpa adanya semangat kebangkitan Dlingo, maka Dlingo akan tetap berpotensi tertinggal dan terpinggirkan. Pak Yas dengan ketulusan niat dan tekad yang kuat bersama masyarakat siap membawa obor kebangkitan Dlingo dengan penuh semangat dan totalitas untuk menjadikan Dlingo menjadi daerah yang maju dan terdepan.

Pak Yas yakin bahwa spirit kebangkitan yang terus dikobarkan mampu membawa perubahan bagi Dlingo, karena baginya “berani merubah nasib itu terhormat”. Keberanian adalah sumber kekuatan sekaligus modal utama untuk mewujudkan suatu perubahan. Tanpa keberanian tidak akan ada perubahan yang terjadi di dunia ini.

Dlingo tidak akan mengalami perubahan apa – apa tanpa adanya keberanian. Keberanian mengambil langkah awal perubahan, Keberanian untuk menentukan sikap dan pilihan politik yang benar – benar mewakili aspirasi dan kepentingan pembangunan Dlingo. Pak Yas dengan ketulusan hati dan tekad yang kuat serta komitmen yang teguh akan memperjuangkan aspirasi dan kepentingan pembangunan Dlingo, karena baginya “bukan orang lain yang menentukan nasib kita” artinya bahwa kemajuan Dlingo tidak ditentukan oleh orang lain, namun kemajuan Dlingo ditentukan oleh masyarakat Dlingo itu sendiri.

Sebagai Caleg PKB DPRD Bantul, H. Yasmuri siap menjadi wakil masyarakat Dlingo untuk memperjuangkan aspirasi, kepentingan dan kebutuhan pembangunan Dlingo yang selama ini kurang atau tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah kabupaten Bantul. Jika anda selaku pembaca adalah warga Dlingo tidak ada salahnya untuk melihat track record perjuangan dan pengabdian H. Yasmuri bagi masyarakat Dlingo khususnya dan Bantul secara umum.

CALEG YANG DEKAT DENGAN PLERET

Pleret memiliki hubungan historis yang kuat dengan sosok Pak Yas. Selama 10 tahun hidupnya dilalui dengan hiruk pikuk pembangunan pendidikan di tanah Mataram ini. SMP N 2 Pleret adalah sekolah yang harus dipimpin saat pertamakali menjadi kepala sekolah. Bukan perkara mudah memimpin lembaga pendidikan tersebut, terlebih saat bencana gempa bumi melanda tahun 2006. Pak Yas berupaya maksimal beserta guru dan karyawan agar tetap bisa melaksanakan pembelajaran untuk siswa. Kerjasama dengan masyarakat sekitar dan komite sekolah dijalin dengan baik sehingga pembangunan pun dilaksanakan dengan cepat. Bahkan Putra Kaisar Jepang (Pangeran Akishino) meresmikan secara langsung bangunan sekolah pada 23 Januari 2008.

Kemampuan pengelolaan dan kepemimpinan ini juga pernah dipraktikkan di SMP N 3 Pleret, manakala Pak Yas menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah. Untuk beberapa waktu aktivitas di dua sekolah itu dilaksanakan sebelum akhirnya Pak Yas menjadi Kepala Sekolah SMP N 1 Pleret tahun 2008 hingga 2014. Menurutnya, Pleret memiliki potensi sumber daya masyarakat yang baik. Belum lagi soal nilai sejarah yang sangat tinggi karena menjadi saksi kedigdayaan Kerajaan Mataram pada masa lampau.

Potensi-potensi inilah yang seharusnya dikawal dan diprioritaskan untuk dibangun. Skala prioritas pembangunan yang dibentuk pasti akan membawa multi efek bagi masyarakat. Wilayah yang kini tengah berkembang ini harus dilindungi dari dampak pembangunan. Pertumbuhan pemukiman seringkali mengancam keberadaan lahan hijau. Peran legislatif bersama eksekutif diprioritaskan untuk menciptakan regulasi yang berpihak kepada masyarakat Pleret. Termasuk anggaran pembangunan yang harus digunakan secara tepat, sehingga akan terbentuk Kecamatan Pleret yang maju tanpa meninggalkan kearifan lokalnya.

 

IMOGIRI ADALAH BAGIAN HIDUP

Sebuah madrasah yang berada di Desa Wukirsari menjadi tempat Pak Yas mendapatkan pendidikan. Meskipun harus jalan kaki hampir 5 km menyusuri punggung bukit, namun Pak Yas berusaha sampai di MTs Giriloyo tepat waktu setiap hari. Dalam pendangannya, Imogiri bukan lagi orang lain. Wilayah yang satu ini tidak boleh diremehkan. Tanah harum yang menjadi tempat persemayaman terakhir Raja-Raja Mataram ini dipilih bukan tanpa alasan.

Sejarah sudah membuktikan bahwa Imogiri itu istimewa. Tak ayal banyak ditemui potensi terpendam yang masih belum dieksplorasi mendalam. Termasuk seni dan budaya yang hingga kini masih dijaga dan dimuliakan oleh warga Imogiri. Sebut saja sebuah obyek wisata yang banyak mengandung unsur mitologi, Gua Cerme. Gua yang berada di perbatasan Bantul-Gunungkidul ini dapat diangkat sebagai ikon selain makam raja-raja Pajimatan. Hanya diperlukan sebuah ramuan yang matang untuk mengembangkan potensi alam, seni, dan budaya Imogiri. Masyarakat yang religius justru akan menjadi garda terdepan untuk membentengi kebudayaan agar tidak tergerus arus modernisasi.

Keuntungannya adalah efek ekonomi secara langsung bagi warga. Belum lagi berbicara berbagai sentra industri baik kuliner maupun kerajinan. Pelaku industri ini sudah sepantasnya mendapat tambahan perhatian termasuk kemudahan permodalan. Memperjuangkan para perajin, seniman, dan budayawan harus dilakukan lebih cepat. Perlu disadari bahwa tiga bidang tersebut tengah melawan tantangan industri dan modernisasi.

Copyright Yasmuri.com | Developed By Dlingo Digital Valley